ETALASE KOPI JAMBI
Sumber : @etalase_jbi (IG)

Workshop perjalanan hulu-hilir kopi angkatan #19 kali ini terlaksana dengan bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Padang. Selama 23 hari serangkaian proses pembelajaran yang berlangsung  dengan 16 peserta workshop yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Jambi. Pada artikel “23 Hari Bercerita” ini mewakili peserta workshop angkatan #19. Cerita ini merupakan kumpulan dari tiga peserta perempuan yang akan menceritakan pengalamanya selama mengikuti workshop.

|Baca juga tentang workshop hulu-hilir kopi di angkatan #18 pada link berikut | https://etalasekopijambi.com/perubahan-diri-angkatan18-workshop-kopi-etalase/ |

Kenali Kopimu Sebelum Kamu Nikmati

Penulis : Riska Auliya Putri

Riska Auliya Putri

Minuman kopi selalu menjadi  pilihan para penikmatnya baik   para generasi muda dan tua. Bahkan kopi menjadi teman pendamping bagi mereka yang membutuhkan inspirasi. Nah…  kopi juga memiliki arti yang cukup mendalam lho.. . Kopi tak hanya sekadar minuman saja, tetapi juga mengandung filosofi yang mendalam, terutama tentang kehidupan. Dengan meminum kopi terlebih dahulu, mungkin bisa menenangkan pikiran sebelum memulai aktivitas pada hari itu

  Nah saya mengikuti workshop di Etalase ini karena ingin mengenal kopi lebih dalam dan ingin menyeduh kopi yang nikmat. saat di Etalase saya di ajarkan tentang Budidaya Dalam Proses Perjalanan Kopi dari hulu ke hilir dulu untuk mengetahui prosesnya kopi yang ada di Jambi maupun Indonesia, tak hanya itu saja ada juga tentang  proses dari Petani, Prosesor, Roastery, dan Barista.

Petani Kopi

Sebelum mengetahui bagaimana kopi dijadikan sebuah produk, ada baiknya jika kita tahu dulu berbagai struktur dan lapisan dari buah/ceri kopi. Pada dasarnya, struktur buah kopi (coffee cherry) terdiri dari pericarp (kulit daging terluar) dan biji kopi. Setelah dipanen, buah-buah kopi yang dipetik merah kemudian dibawa ke tempat pengolahan/penggilingan untuk memisahkan biji dengan kulit dagingnya. Biji inilah yang kemudian akan dikeringkan agar tetap aman disimpan sebelum dijual ke pembeli. Setelah dipetik, buah kopi akan segera diolah. Siapa yang mengolah buah kopi?, kami menyebutnya prosesor. 

Prosesor

Prosesor adalah orang yang mengolah biji kopi pasca panen. Ada tiga proses pasca panen yang  saya pahami saat mengikuti Workshop. Proses pengolahan basah, giling basah, dan Kering. ketiga proses ini saya pelajari dengan melakukan praktik langsung saat mengikuti workshop.

Roastery

Roastery atau Coffee Roaster adalah istilah untuk menyebutkan profesi seseorang yang menyangrai/menggoreng biji kopi mentah menjadi roasted bean. Sedangkan kegiatanya disebut Roasting. Untuk mendapatkan cita rasa kopi yang khas tersebut biji kopi perlu melewati beberapa proses, salah satunya adalah proses penyangraian terlebih dahulu. Nah, tingkat kematangan roasted bean adalah penentu cita rasa kopi. Ada light, medium, dan dark

Barista

Barista ini termasuk dalam pekerjaan yang membutuhkan kemampuan lebih, meskipun kadang kita melihat pekerjaan mereka terlihat mudah dan gampang dikerjakan oleh siapapun. Profesi barista termasuk jenis pekerjaan yang banyak menarik anak muda dan banyak dicari oleh para mahasiswa seperti saya, yang tertarik untuk mengisi waktu luang dan ingin lebih memahami dunia perkopian.

Nah setelah beberapa hari belajar di etalase saya di beri kesempatan untuk mempraktekkan profesi barista di luar Etalase atau di luar lapangan saya  ditempat kan di 3 lokasi yaitu di Ghona, Kawan Sejalan, dan SS Coffee & Bikers. saya dan peserta lainya di bagi menjadi 3 yaitu kelompok A, Kelompok B, Kelompok C. 

Pada hari pertama lokasi nya di Ghona Coffee  di sana kami mendalami pengenalan area kerja dan peralatan, service/pelayanan, signature menu,based espresso menu, cupping kopi, dan manual brewing. ada beberapa hal yang baru tentang menyeduh kopi menggunakan alat V60. Khusus di Ghona Coffee  kami membuat Coffee latte juga.

Dan pada hari kedua lokasinya berada di kawan sejalan nah di sana banyak hal baru yang kami dapatkan dari cara melakukan Cupping agar mengetahui kualitas bahan baku kopi dan karakter rasa yang dihasilkan lalu melakukan Pouring dengan benar dan sesuai teknik. Selanjutnya, agitasi yaitu teknik mengaduk bubuk kopi saat melakukan penyiraman. Nah, di agitasi ini kami langsung praktek setelah diajarkan caranya.

Dihari ke-tiga kami berada di SS Coffee & Bikers di sini kami lebih mempelajari tentang signature menu.  menu khas dari suatu produk kopi yang mempertimbangkan keindahan visual maupun cita rasa kopi. kami juga diberi tips dan trik untuk menjual signature menu, serta 3S yaitu Senyum,Sapa,Sopan saat melayani konsumen.

| intip keseruan materi tentang pembelajaran terkait hulu perjalanan kopi | https://www.instagram.com/reel/CeeF2pugUg8/?utm_source=ig_web_copy_link |

Give Coffee A Chance

Penulis : Febri Dinanti

Kita yakin bahwasannya kesempatan akan selalu ada kapanpun.

Begitu pula yang kita terapkan kepada kopi, kopi selalu punya kesempatan untuk kita nikmati di manapun dan kapanpun. Dengan segelas kopi kita merasakan hangatnya percakapan, banyaknya cita rasa serta karakter dari kopi itu sendiri. Terkadang dari kopi pun bisa menjadi perdebatan soal rasa. Tidak ada yang salah dengan selera rasa kan. Ya? Itu baru soal selera rasa, belum lagi kita melihat bagaimana seseorang itu punya cara menikmati kopi. Kalo udah ngobrolin soal kopi tidak ada yang benar dan salah. Justru dengan adanya perdebatan dan perbedaan inilah yang menjadikan kita dan penikmat maupun penggiat kopi punya kesempatan untuk selalu menghadirkan kopi di kehidupannya.

ETALASE KOPI JAMBI

Perjalanan hulu-hilir kopi pun juga menjadi salah satu bagian dalam industri kopi ini. Sebelum kopi itu diseduh, ada beberapa proses sebelumnya. Yaitu proses penanaman, proses pembudidayaan tanaman kopi yang dilakukan oleh seorang petani kopi dilanjutkan proses pasca-panen oleh prosessor kopi dilanjutkan lagi proses pemanggangan kopi oleh seorang roaster, itu saja sudah menjadi kesatuan serta menjadi pengikat yang sangat penting dalam industri kopi ini, belum lagi ditambah adanya seorang barista yang harus bisa memberikan hasil yang maksimal, karena kunci dari ini semua adalah barista itu sendiri! Kenapa? Karena tamu yang berkunjung akan berhadapan langsung dengan barista yang siap untuk memberikan pelayanan serta cerita yang sangat luas bagaimana ia memandang industri kopi ini. Sepengalaman pribadi menjadi seorang barista itu sangat amat luar biasa ribetnya bukan main, karena seorang barista selalu melakukan pekerjaan di bar yang setiap hari ia lakukan serta harus mengevaluasi agar dirinya menjadi pantas ketika saat menyeduh kopi, harus senang dan tenang serta harus terbuka pula. Kerja keras petani, prosessor dan roaster harus kita apresiasi, karena tanpa adanya petani, prosessor dan roaster kita saat ini tidak akan bisa menikmati segelas kopi yang nikmat dan beraneka ragam.

Jika dibuat sebagai teori mahasimpel, menyeduh kopi sangatlah sederhana karena kamu hanya butuh kopi dan air. Lantas kenapa harus dibikin ribet, sih? Karena sebelum kopi itu hendak disuguhkan ke tamu, ia punya cerita nya tersendiri dengan menggunakan teknik si penyeduhnya. Seperti yang kita lakukan pada saat belajar kerja, kita semua memiliki cara nya tersendiri untuk menyeduhkan serta menyuguhkan kopi itu.

Soal pengalaman, 23 hari sangatlah singkat menurutku karena sangat banyak hal yang bisa kita ceritakan hanya dari segelas kopi saja, belum lagi obrolan soal tamu yang datang hanya untuk bertemu baristanya tapi minumnya matcha, salah? Engga! Karena tamu punya seleranya tersendiri. Itulah barista, yang harus siap bisa menjadi apapun untuk mendapatkan tempat tersendiri di hati tamu yang datang.

Budaya mengopi pun sudah dibicarakan kesana-kemari, setidaknya kita sudah bisa menyimpulkan seperti ini budaya mengopi sudah menjadi luas dan khas! Dan kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada kita bahwa kita masih bisa menikmati segelas kopi dan masih punya waktu untuk mengunjungi kedai kopi yang ada di Jambi untuk membicarakan soal kopi, terutama Ghona Coffee, Kawan Sejalan dan SS Coffee and Bikers. Seperti kutipan puisi pak Sapardi Djoko Damono “Yang fana adalah waktu, kita abadi” karna dengan teman-teman lah bahwa kesempatan ini akan selalu abadi di hati dan ingatan-ku. Sekali lagi, terima kasih untuk rekan-rekan yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu yang mau berbagi dan bercerita soal pengalamannya di industri kopi, serta Yayasan Etalase Ekosistem Indonesia yang sudah membuat program ini.

Semoga ke depan dapat lebih baik. Semoga yang sudah dapat tetap menjadi memori baik.

| Lihat keseuran kami saat aktifitas workshop berlangsung di : https://www.instagram.com/reel/Ce5IlaRA2NP/?utm_source=ig_web_copy_link |

Barista – Dari Hulu Kami Belajar

Penulis : Tiyas Hashinah Cahyani

Menjadi seorang barista tidak hanya dilihat dari sudut pandang soal keahlian dalam meracik secangkir seduhan kopi untuk penikmat kopi . Begitu pula dengan cita rasa kopi yang menjadi salah satu peran dalam  membuat pelanggan kembali lagi ke kedai kopi.

Adapun hal penting Seorang barista ketika berdiri  di belakang meja bar  setidaknya memiliki pengetahuan dari hulu ke hilir perjalanan kopi. Barista yaitu sebuah profesi yang pekerjaannya membuat/menyajikan minuman berbahan dasar kopi kepada pelanggan. Tidak hanya sekedar menyajikan saja seorang barista juga perlu memperhatikan pelayanan penyajian kepada para pelanggan  dengan baik.

Bulan Juni menjadi saksi nyata saya terjun langsung ke dalam industri kopi dan belajar lebih banyak tentang kopi yang awalnya saya hanya tahu 1 jenis kopi di antara beberapa jenis kopi lain nya . Saya yang benar – benar buta dengan berbagai cita rasa kopi dan jenis kopi pun mulai mengenal secara perlahan di pelatihan kebaristaan ini. 

Awalnya saya mempelajari tentang sistem hulu dari seorang narasumber untuk di perkebunan dan sejarah kopi yang hingga saat ini sudah mengalami gelombang ke tiga. Lalu beralih ke  prosesor, roastery, barista dan custommer  yang merupakan bagian hilir dari dunia perkopian. Lanjut setelah itu saya dan teman – teman saya melakukan praktek pembuatan kopi secara manual dan berkelompok. Mulai dari penggunaan alat V60, French fressh, syphon dll.

Setelah itu saya dan teman- teman  belajar mengenai K3 (Kesehatan dan Keselamatan dalam Bekerja)  dari seorang narasumber. Pentingnya K3 dalam kebaristaan itu sangat lah penting sekali, sebab menjamin keselamatan diri seorang barista dan setiap orang yang berada di sekitar tempat kerja. Selanjutnya kami bersama – sama mendapatkan pemahaman tentang pengaruh perkebunan dari narasumber  berpengalaman yang terjun langsung pada perkebunan kopi di tempat tinggalnya. Banyak ilmu yang bisa kami sama – sama ambil dari beliau bahwa biji kopi yang berkualitas yaitu datang dari perkebunan yang sangat terawat dari seorang petani .

Ohh iya… kami juga mempelajari tentang bahasa Inggris dasar, penting bagi seorang barista untuk keahlian  dalam melayani pelanggan. Dan kami juga mempelajari tentang manajemen konflik, Mulai dari pengertian konflik itu sendiri,  lalu bagaimana cara menyelesaikan konflik itu dengan cara musyawarah dan strategi sebaik mungkin.

Setelah dari beberapa hari yang kami lewati untuk berbagai materi dan praktek dalam pembuatan penyeduhan kopi dengan teknik yang beragam,  tiba lah kami pada hari dimana kami praktik lapangan di kafe yang sudah di tentukan dengan kelompok yang sudah dibuat sebelumnya

Di hari pertama, kelompok kami berada di Ghona Coffee and More. Kafe ini menonjolkan produk based espresso dengan suasana kafe kekinian. Disana kami juga diperbolehkan praktek secara bergantian satu persatu oleh tim Ghona Coffee  menggunakan mesin espresso yang berbeda dengan ditempat belajar kami, disana juga kami diperbolehkan untuk bertanya-tanya mengenai espresso, kepada barista yang ada di Ghona .

Dihari kedua, jadwal kelompok kami di Kafe Kawan Sejalan yang dimana Kafe ini menonjolkan manual brew dengan suasana cafe seperti sedang bersantai didepan teras rumah sendiri. Disana kami melakukan cupping terlebih dahulu lalu lanjut diperkenalkan dengan teknik mengukur dencity dan temperatur suhu yang pas untuk secangkir seduhan kopi dengan teknik rumus D&T. Setelah itu kami diperbolehkan untuk membuat seduhan kopi sendiri dengan menggunakan rumus D&T yang sudah dijelaskan tadi.

Lalu dihari ketiga, yang merupakan hari terakhir jadwal kelompok kami di SS Coffee and Bikers. Kafe ini menonjolkan produk Signature menu dengan suasana kafe pecinta klub motor besar. Disana kami diperkenalkan arti dari Signature itu sendiri, dan cara pembuatannya. Kami juga diperbolehkan untuk praktek langsung oleh tim SS Cofee and Bikers untuk membuat/mengulik signature buatan kami sendiri dengan bahan yang sudah dipersiapkan oleh penyelenggara pelatihan kami. Banyaknya ilmu yang kami dapat dari Signature Menu, bahwa bahan pembuatan signature itu sangat lah mudah didapatkan tetapi resep pembuatannya itu yang tidak sembarang orang tahu dan menjadi rahasia dapur dari sebuah kafe. SS Coffee and Bikers juga menegaskan akan pentingnya melayani konsumen dengan baik dalam pembelajaran kami hari itu.

Demikian pengalaman yang saya dapatkan dari pelatihan barista ini. Terimakasih untuk pihak penyelenggara yang sudah menyediakan keperluan dan kebutuhan saya dan teman-teman saya perlukan dalam pelatihan ini dan juga Terimakasih kepada narasumber yang mau berbagi ilmunya kepada kami para peserta pelatihan termasuk saya sendiri.

Baca juga cerita tentang workshop hulu-hilir kopi angkatan 19 pada link berikut | https://etalasekopijambi.com/3-cerita-tentang-pelatihan-barista-edisi-workshop-angkatan-19/ |