Bagi siapapun yang mendengar ataupun mengikuti langkah perjalanan Kopi di Provinsi Jambi khususnya saat sharing dan belajar bersama atau hanya sekedar menikmati seduhan Kopi Etalase yang beralamatkan di Jalan Urip Sumoharjo, Lrg. Jaya RT. 13 No. 16, Kel. Sungai Putri, Kota Jambi, tentunya pernah atau sempat melihat ataupun berinteraksi dengan sosok dibalik hadirnya Roastbean (biji shangrai) yang diseduh oleh Barista (penyeduh) saat singgah di tempat yang saat ini lebih dikenal dengan Workshop Kopi di ekosistem Etalase. Adalah Harika Lifanasari yang akrab di sapa Bunda seorang Lady Roaster  atau penyangrai wanita dalam menjalankan profesi yang mayoritas dijalankan oleh laki-laki.  

Intip-intip link IG | https://www.instagram.com/harika_lifanasari/  |

ETALASE KOPI JAMBI
Perempuan dan Kopi | Lady Roast Kopi (di) Jambi

Secara emosional, kecintaan Bunda terhadap kopi tumbuh secara lahiriah seiring dengan aktivitas orang tua yang merupakan petani kopi (robusta) di Way Tenong, Fajar Bulan – Lampung Barat, Provinsi Lampung. Bahkan Ayah nya (alm. Harun Sanusi) merupakan salahsatu tokoh dalam pengembangan kopi khususnya teknik budidaya yang baik di daerah tersebut pada masanya.  Putri bungsu dari 6 bersaudara ini, pada masa kecilnya terus ikut sang ayah saat melakukan perawatan kebun hingga masa panen. Bahkan sampai dengan menghantarkan biji kopi kering berada ke “tungku perapian”, saat sang ibu (almh. Suraidah) menyangrai kopi dengan peralatan-peralatan tradisional. Kopi yang telah di shangrai (roastbean) oleh ibu bukanlah untuk diperjualbelikan, akan tetapi hanya sekedar memenuhi kebutuhan Ngopi sehari-hari keluarga dan tentunya di biji kopi pilihan dari kebunnya. Teringatkan oleh Bunda pada saat itu, teknik penyangraian kopi secara tradisional yang dilakukan oleh sang ibu tidak lah jauh berbeda dengan metode menggunakan mesin yang modern saat ini. Diantaranya, api yang menyala dari kayu yang dibakar secara berkala diatur besar kecil dengan cara mengeluarkan atau memasukkan kayu bakarnya sesuai dengan besaran api yang diinginkan (suhu/temperatur), sembari sesekali mengipas dengan maksud ‘mengusir’ asap yang dihasilkan dari biji kopi dari dalam wajan kuali penyangrai (udara/airflow). Dan jam didindingpun tidak luput dari perhatian sang ibu selama penyangraian kopi yang dilakukan (waktu/timer). Saat itu, bunda tidaklah terlalu memahami secara detil maksud dan tujuan dari hal-hal yang dilakukan oleh sang ibu saat menyangrai kopi tersebut. Hingga kopi yang telah dishangrai tersebut didiamkan/istirahatkan beberapa jam (resting) hingga ditumbuk (grinder) dengan menggunakan lesung dan diseduh untuk siap dinikmati, tentunya juga dengan olahan tradisional, TUBRUK.

2018 merupakan Turning Point Bunda, dimana profesi sebagai guru bahasa inggris dan kecintaannya dengan kopi berada di titik frekuensi sama yang membutuhkan  keputusan dalam langkah selanjutnya untuk 2 hal tersebut yang notebene mempunyai porsi dan karakter dalam memberikan sesuatu yang terbaik untuk dikonsumsi. Hingga akhirnya mendalami kopi merupakan salahsatu ikhtiar untuk apa yang dipilih dapat diterima oleh elemen lebih luas dalam lapisan masyarakat.

Selain selalu sharing bersama keluarga dan penggiat kopi, Puslitkoka Jember di Jawa Timur menjadi sasaran awal Bunda dalam mendalami pengetahuannya terkait kopi khususnya dalam pengolahan kopi sampai seduhan. Berbagai pelatihan dan kelas kopi terikuti sampai dengan momen pelatihan menyangrai (roasting) yang dilaksanakan oleh Kementerian Perindustrian RI bekerjasama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (AKSI SCAI) di Internastional Coffee Day (ICD) 2019 tidak luput dari perhatian Bunda. Hingga akhirnya berkesempatan juga untuk mengikuti dan mendapatkan Sertifikat Kompetensi dengan standar Badan Nasional Sartifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Indonesia. Berbekali beberapa hal tersebut, dan untuk lebih mendalami dalam mengeksplore apa yang telah dilihat dan djalankan sedari kecil tersebut, Bunda pun memutuskan untuk mengimplementasikan secara rutin dengan menggunakan mesin dengan skala micro-roastery. Saat itu hingga kini Bunda memilih WExSUJI Mini Roaster 100 sebagai mesin modern yang dianggap simple dan konsisten serta dapat digunakan dimanapun (portable) khususnya untuk saat sharing dan berbagi pengetahuan kepada siapapun.

Link terkait | https://www.suji.co.id/store/27-coffee-roaster | atau dapat juga klik | https://wiliamedison.coffee/products/wexsuji-mini-roaster-100

PENGABDIAN TANPA BATAS

Sebagai seorang wanita yang merupakan ibu dan istri dalam sebuah keluarga kecil sekaligus komitmen disaat ikhtiar untuk terus sharing dan berbagi, Bunda sebagai ladyroast terus konsisten dalam memilih greenbean sampai dengan tercipta roastbean yang berkarakter dalam keseimbangan aroma, rasa dan sehat serta komitmen bersama di Etalase untuk terus sharing dan berbagi ke berbagai elemen masyarakat. Yaaa, Bunda terus terlibat secara langsung dalam setiap aktivitas Etalase termasuk Workshop (kelas) kopi (18 angkatan) dan Making (pengalaman) khususnya untuk materi dasar Roasting dan Barista dengan tetap tidak membedakan status social baik di kota maupun di pelosok desa. Dari kaum minoritas dan ataupun perempuan menjadi sasaran prioritas Bunda untuk sharing dan berbagi.

ETALASE KOPI JAMBI
Terang menjadi Gelap saat Gelap Menjadi Terang

Tidak sedikit profesi Barista dari kaum Hawa lahir dari kesabaran, konsisten dan komitmen Bunda dalam mendampingi. Bukan hanya di Kota tapi hingga ke Kelompok Wanita Tani (KWT) dari desa berpenghasil kopi di Provinsi Jambi. Sebelum sharing terkait penyeduhan (barista), bunda akan menggiring memulai dengan membahas secara umum bagaimana proses untuk menghasilkan roastbean yang akan digunakan untuk seduhan. Mulai dari memlih greenbean hingga ketelitian mengawal dan mengamati proses dalam praktek roasting menjadi tahapan ‘wajib’ saat Bunda melakukan sharing dan berbagi pengetahuan dalam pengolahan kopi.

Baca Juga artikel terkait | https://etalasekopijambi.com/sudah-memperingati-hari-kartini-ngapain-lagi/

Seiring dengan sejalan waktu, hasil roastingan Bunda pun bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas Etalase saja, akan tetapi lebih dari 2 tahun juga telah digunakan oleh CoffeeShop di Kota Jambi maupun luar Provinsi Jambi, hingga dari permintaan serta berbagai masukan Etalase bersama  Bunda pada  1 Januari 2021 meluncurkan produk dengan brand BUN ‘Coffee&Roastery”. BUN dihadirkan sebagai identitas perkopian di Jambi untuk mengingatkan ke semua pihak bahwasanya selalu ada sentuhan dari perempuan dalam setiap proses perjalanan hulu sampai dengan hilir aktivitas, dari petani / prosssor / roaster / barista dan sebelum sampai di penikmatnya.

ETALASE KOPI JAMBI
BUN CoffeeRoastery

Bunda berharap melalui BUN, dapat menjadi keterwakilan dan apresiasi untuk perempuan-perempuan hebat yang selalu berada di kebun hingga memastikan ketersediaan dan kualitas greenbean untuk konsistensi produk yang dipasarkan. BUN juga berharap terus bermunculan perempuan yang terus bersanding dengan kopi sebagai pelaku sekaligus pelopor dari setiap langkah yang sedang dan akan dilakukan secara “Konsistensi, untuk terus menerangi setiap sudut Kegelapan guna menghasilkan kualitas dengan Aroma, Rasa, Sehat”

Intip link disini | https://www.instagram.com/p/CJh8NjLLHFm/?utm_source=ig_web_copy_link |Selamat Hari Kartini 2022 (red//etalase)

IBUKU, MY FAVOURITE BARISTA

Senada disebutkan dari statemen Mulky Wijaya yang akrab disapa dengan Kang Mulky yang merupakan professional di Hilir Kopi sebagai Manajemen Bisnis dan Coffee Counsultan ;

“Dan sore itu Ibuku membuat kopi susu nya lagi, tanpa scale dan alat canggih lainnya

Entah berapa banding berapa rasionya, yang jelas PAS  di awam lidahku. Kopi tubruk wangi kesenangan bapakku dipadunya dengan susu. Ya, kopi dengan ampas, kegemaranku hingga kuliah, berbeda dewek dengan karibku yang lain

Sejak saat itu kudeklarkan kopi sebagai minuman favoritku.

Kopi buatan Ibu, penyambung atmosfer sore di meja keluarga depan TV, merajut percakapan dengan bapa yg sesekali mengeluarkan jokes2 kecilnya. Ringan, terkenang.  Alfatihah buat bapak.

(end/MW)