CERITA DIANTARA KOPI (MASIH) NGOPI TANDANG EDISI LIBERIKA

0
435

EtalaseKopiJambi, Pong Pong Pong Pong Pong Pong, suara mesin pom-pong semakin diperlambat oleh sang kapten saat memasuki Parit 9, salah satu dusun yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi. 10 April 2021 disaat jam menunjukkan sekitar jam 3 sore.

Perjalanan Menggunakan Pom-Pong
Perjalanan Menggunakan Pom-Pong

Setelah selesai menyantap hidangan makan siang yang tereksekusi sore dan santai sejenak. Bersama perwakilan masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani di dusun tersebut, tim bergegas menuju kebun liberika yang terletak tidak jauh dari kediaman Bpk.Rasiwan yang juga tempat malam ini kami menginap. Oke selengkapnya proses seluruh aktivitas selama 2 hari (10- 11 April 2021) akan kami ceritakan nih :  

KEBUN

Diawali dengan melihat buah kopi dalam tumpukan karung dan merasakan langsung rasa yang dimunculkan dalam setiap warna buah (merah, kuning, hijau alias matang, setengah matang, mentah) yang telah dipanen. Semua tim termasuk beberapa petani  memberikan beragam pendapat setelah memakan langsung buah kopi liberika dari pohonnya dari berbagai macam warna. Rasa buah seperti buah Cherry pun di dapat dari buah kopi yang berwarna merah (matang), kesegaran yang didapat buah Merah seolah membuktikan jika buah ini diolah dengan baik hingga biji kopi siap untuk diseduh dan termasuk proses dalam menyangrai (roasting) akan mendapatkan rasa manis. Pada buah Kuning (setengah matang), rasa sepat atau kelat sangat dominan dirasakan sehingga nyaris tidak tertelan, kemungkinan karena masih terdapat unsur getah dalam buahnya. Dan dikarenakan telah merasakan buah warna merah dan kuning,  buah yang berwarna Hijau (mentah) pun tidak termakan oleh tim karena selain masih sangat keras, juga kandungan getah sangat mendominasi dari buah tersebut. Hanya candaan kesimpulan oleh beberapa tim, sebagaimana rambutan ataupun buah lain bahwasanya buah kopi berwarna hijau tersebut pastilah sangat tidak menarik jika langsung di makan.
Sharing menarik dan cukup panjang saat dikebun lebih mengarah ke tanaman kopi yang terlihat sakit dan bahkan nyaris mati yang disenyalir dari spekulasi serangan hama. Jamur akar putih yang merupakan faktor utama dan umum menyerang menjadi dominan “tertuduh” yang mengakibatkan sakit dan perlahan batang tersebut mati. Akan tetapi indikasi tersebut juga tidak dapat 100% dipastikan. Batang yang mengalami sakit bahkan mengarah ke mati tidak massif terjadi, batang kopi yang lain dan tanaman sekitar batang yang terindikasi tersebut masih terlihat baik dan relatif segar. Tanah di pangkal batang yang terindikasi tersebut terlihat ‘cerukan’ berbentuk huruf “U” yang rentan dengan genangan air alias tidak rata. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah “serangan” berasal dari sesuatu yang memang berasal dari lapisan di Gambut ? lapisan yang kami namakan “lapisan neraka” ? Dimana jika lapisan yang bebentuk serbuk dan berada diantara gambut tersebut terkena air akan lebih aktif “berkelana” bersama dan berhenti di genangan air sampai akhirnya dikonsumsi oleh akar-akar tanaman yang mengakibat batang kopi “keracunan”? Wallahualam.
Obrolan di kebun juga mengarah ke aktivitas yang dilakukan di kebun agar produktivitas batang kopi lebih maksimal. Tahapan P3S atau Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi menjadi topik utama hingga tanpa terasa waktu telah mendekati Magrib dan nyamuk-nyamuk kebun juga udah mendekat seolah memberikan isyarat untuk kami bergegas kembali kerumah.
Bersamaan dengan sampainya kami dirumah, terlihat 2 (dua) orang penggiat kopi Liberika (Firdaus, KUB H.Bangun dari TanjabBarat dan Amin, Peatland dari TanjabTimur) datang dengan menggunakan 2 sepeda motor. “Ahaiiiii, cerita selanjutnya akan lebih SEMPURNA nih” pikir kami sembari beranjak untuk mandi ataupun bersihkan diri.
 
SHARING

Selepas makan malam, kediaman Pak Rasiwan mulai didatangi oleh beberapa masyarakat khususnya dari kelompok tani bahkan juga dari perangkat desa yang ternyata tujuan utamanya adalah untuk sharing bersama baik seputar kopi maupun aktivitas lainnya seperti industri kreatif dan UMKM. 2 (dua) film pendek yang bertemakan “Proses Kopi” (Produksi LTB bersama tim BudaKaduB sebagai Production House) dan “Bertandang” (Produksi Camping Film – Forum Film Jambi) mengiringi sharing yang tentunya ditemani oleh Kopi Jambi (Liberika, Robusta dan Arabika) dengan beberapa metode seduh diantaranya Tubruk dan Filter (V60) yang dikoordinir oleh Mulky Wijaya (Coffee Antusiast dan Manager salahsatu Brand Internasional) bersama peserta Magang di Etalase (Mastiko, Kevin, Ari, Iki “GreenCoffee” dan Tasliman yang merupakan  salahsatu dari Pemuda Desa Tanjung Pasir)
Hal tersebut bertujuan untuk mengenalkan masyarakat yang hadir agar mendapatkan perbedaan dari Jenis Kopi (Liberika, Robusta, Arabika) akan tetapi utamanya adalah perbedaan aroma dan rasa dari Liberika yand diolah secara natural “asalan” maupun “spesial” (natural, honey dan fullwash). Proses spesial yang sebelumnya belum terkenalkan apalagi dicicipi, membuat mereka (masyarakat) yang juga mempunyai kopi yang sama sempat mengerutkan dahi kebingungan saat mencium aroma dan mencicipi rasa yang dimunculkan. Perbedaan sangat terasa dari kopi yang biasa mereka proses. Sharing pun berlanjut dari proses pasca panen yang dilakukan agar “kemenangan” dari waktu, berat dan harga jual yang didapat. Serta bahkan Jhe Edhyanto juga sharing terkait pengalaman Teraphy Kopi dengan menggunakan kopi dari proses yang disampaikan. (baca juga : https://etalasekopijambi.com/kopi-sehat-lawancovid19-bagian-2-teraphy-kopi/ ) 
Sharing dan diskusi malam itu pun dilanjutkan dengan berbagi pengalaman proses perjalanan yang dilalui oleh Muhammad Firdaus (KUB H. Bangun, TanjabBarat) dan Nurul Amin (Peatlands Coffee, TanjaTimur) selama nyaris 3 tahun terakhir seputar “perjuangan” menjadi penggiat Kopi Liberika didesa dan daerahnya masing-masing. Hingga antusias masyarakat membuat waktu yang menunjukkan lebih dari  tengah malam pun tidak terlalu dirasakan malam itu.

Sharing metode pengolahan hingga penyeduhan Kopi
Sharing metode pengolahan hingga penyeduhan Kopi

Minggu,11 Mei 2021 

Pagi cerah, udara segar dan sejuk khas desa yang asri mengawali seluruh aktivitas umum pagi tersebut, dimulai dengan mandi, bersih-bersih, packing hingga sarapan makanan khas desa Tanjung Pasir. Terlihat sang nahkoda kapal kami, Bang Sopingi sibuk menyiapkan Pompong yang akan membawa kami menuju pelabuhan di Pasar Minggu Desa Tanjung Pasir, yaaaaaa walaupun terasa masih sangat kurang menikmati desa ini, rombongan Ngopi Tandang mesti melanjutkan perjalanan pagi ini dan tentunya sebelum air di sungai yang kami lewatkan melewati fase surut agar kami tetap dapat menyusuri sungai dengan nuansa “amazon” pada pagi cerah tersebut. Sedangkan Firdaus dan Amin ternyata udah terlebih dahulu berangkat (subuh) ke kediaman Firdaus yang merupakan Markas KUB H.Bangun lebih dikenal dengan Kopi AJIB dan berada di Desa Sungai Terap, Kec. Betara TanjabBarat, Jambi yang akan menjadi titik selanjutnya Ngopi Tandang untuk sharing dan melihat langsung proses pasca panen, roasting hingga Liberika yang dihasilkan siap untuk dipasarkan ke berbagai konsumennya didalam maupun luar Indonesia.

Terasa jam lebih cepat berlalu dalam perjalanan menuju Desa Sungai Terap, Kec. Betara, walau sebenarnya sama saja kali melihat waktu tempuh yang dijalankan. Yaaaaa jam 12.50 WIB, Ngopi Tandang tiba di Desa Sunga Terap dan disambut langsung oleh Bapak H. Bangun yang merupakan salahsatu Founder Koperasi Usaha Bersama (KUB) H. Bangun bersama beberapa Tim nya termasuk Firdaus yang saat ini fokus dalam produk Kopinya (Kopi AJIB) dan Amin dari Peatlands Coffee dari Mendahara, Tanjab Timur. Selain itu tampak Mbak Yani (Istri Firdaus) dan beberapa tim, sibuk mempersiapkan sesuatu yang tidak lain adalah menu makan bersama siang ini. Dengan suguhan kombinasi masakan lokal dan Jawa Barat menambah energi untuk kami mengisi aktivitas yang dimulai dengan melihat langsung proses pasca panen Kopi Liberika. Dimulai dari “bakal” sebuah bangunan yang berada dibelakang rumah yang ternyata  adalah bakal tempat penjemuran kopi yang sering disebut dome pengering kopi. Saat ini dome yang merupakan inisiasi pribadi terhenti pembangunannya dikarenakan beberapa kendala. Akan tetapi efek positif dari kendala tersebut, menjadikan perubahan perencanaan yang lebih terintegrasi dari perencanaan sebelumnya. Disamping tetap akan ada pengaturan sirkulasi udara juga akan ada sistem instalasi air yang terintegrasi untuk  kebun beberapa tanaman yang telah ada sebelumnya dan kanal sebagai kontrol keluar masuk air di khas daerah gambut. Juga direncanakan akan adanya tempat pemanfaatan limbah kopi dan tanaman lainnya dengan sistem pengolahan ramah lingkungan. Selain itu, solar dryer dan solar panel juga nantinya akan menyempurnakan sistem pengeringan sekaligus penerangan di dome yang juga akan disempurnakan dengan beberapa property bernuansa alam melengkapi kanal kecil sederhana yang agar tetap rileks saat beraktivitas ataupun saat menikmati kopi disekitarnya.

Kegiatan di Desa Sungai Terap, Kab. Betara
Kegiatan di Desa Sungai Terap, Kab. Betara

Sebagai informasi, dome atau tempat penjemuran kopi diperlukan untuk tetap menjaga mutu dari kopi. untuk mendapatkan kualitas kopi terbaik, buah kopi yang dipastikan matang (merah) mesti diolah pada hari itu juga agar terhindar dari oksidasi dan reaksi kimia yang ditimbulkan. Buah yang tenggelam dalam prsoses perambangan diutamakan masuk dalam dome. Dengan dilengkapi dengan rak dengan tinggi minimal 60 cm dari lantai dan tetap mempunyai rongga udara disetiap raknya berguna untuk terhindar dari kelembaban yang akan “memancing’ munculnya bakteri di kopi saat proses penjemuran. Selain proses bolak balik kopi terus dilakukan sampai dengan kering sempurna, kopi yang dijemur juga tidak akan diangkat ataupun dipindahkan baik saat malam hari ataupun cuaca ekstreme seperti hujan.

Setelah sharing di sekitar bakal dome, kami pun berpindah ke dome sederhana yang selama ini digunakan sekaligus terdapat proses lainnya. Deru pulper (pengupas buah) dan huller (pengupas hs/cangkang/tanduk) seiring beroperasi seolah menyambut kami untuk melihat langsung bagian dari proses pasca panen tersebut.

PULPING atau  pengupasan buah kopi digunakan dalam proses selain Natural. Selain menggunakan mesin yang disebut dengan Mesin Pulper, juga ada beberapa petani atau prosessor menggunakan cara tradisional seperti Lesung (tumbuk) ataupun tangan. Tentunya dengan waktu dan tenaga yang ekstra.
HULLING atau pengupasan kulit tanduk dilakukan setelah buah kopi sudah mengering dengan kadar kering yang diinginkan. Dengan semangat Firdaus dan tim memperlihatkan kepada kami proses tersebut tentunya dengan Mesin Huller yang biasa digunakannya.

lengkapnya untuk prosespasca ada di https://etalasekopijambi.com/kopi-berkualitas-dunia/

Merasa puas melihat sekaligus mempraktekkan proses pasca panen, NgopiTandang pun melanjutkan area yang berada di depan atau pintu masuk markas KUB H.Bangun tersebut. Yakni diarea yang biasa Firdaus dan timnya menerima tamu ataupun para petani yang mengantarkan buah kopi segar. Area minimalis dengan luas tidak kurang dari 6×5 dimanfaatkan untuk prose sortasi, roasting dan icip-icip kopi. Disalahsatu sudutnya terdapat sebuah “ayakan” untuk sortir ukuran dan juga terdapat meja untuk sortir manual untuk memisahkan biji defect (cacat).

Disudut yang berbeda, Nurul Amin terlihat asik menyangrai kopi liberika dengan menggunakan mesin roasting dengan kapasitas 1 kg. NgopiTandang pun mendapat kesempatan untuk melihat langsung sembari mendengarkan penjelasan dari Nurul Amin setiap tahapan-tahapan yang dilakukan sampai dengan roastbean (sebutan biji yang telah disangrai) dikeluarkan dari mesin roasting sesaat setelah terdengar suara “krek” yang menandakan biji kopi telah merekah dan matang. Warna coklat agak muda, menunjukkan jika profile yang dihasilkan dalam proses roasting kali ini adalah medium. Setelah suhu roastbean turun, NgopiTandang pun ikut dalam proses pembersihan roastbean sekaligus menyortir jika terdapat Quaker yang lolos dalam sortir akhir sebelum diroasting tadi. Secara umum dan kasat mata, fisik dari Quaker ini adalah permukaan yang keriput dan terakui sangat sulit ditemukan saat masih Greenbeans.
Sebagai informasi dari sisi rasa yang ditimbulkan, Quaker akan menghasilkan rasa yang berbeda dengan umumnya. Hal tersebut juga dibuktikan bersama dikesempatan tersebut saat proses Cupping yang dipandu oleh Mulky Wijaya. Dimana, tim mencoba melihat langsung perbedaan Aroma dan Rasa dari roastbean non Quaker dan ada Quaker nya. 

CUPPING merupakan proses akhir icip-icip kopi untuk melihat aroma dan rasa khususnya oleh prosessor, roastery ataupun barista sebelum siap disebarkan kepada para penikmatnya terkhususkan para buyer atau pembeli.

Selain cupping untuk roastbean Quaker, seluruh personil NgopiTandang mendapat kesempatan untuk Cupping seluruh roastbean sesuai dengan proses pascapanen yang dilakukan oleh Kopi AJIB yang merupakan salahsatu petani sekaligus prosessor mengkhususkan mengelola Kopi Liberika di Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi.
Dalam proses cupping tersebut tetap dipandu oleh Mulky Wijaya yang  akhirnya beberapa kesimpulan bersama terkait  aroma dan rasa dihasilkan dari beberapa olahan pasca panen dengan profile roasting medium pada Liberika tersebut  adalah  sebagai berikut :

NATURAL, Lebih ke nutty kedelai, manis gula tebu (hints), earthy dan long aftertaste, cocok untuk filter

HONEY,  Didapat manis duluan, stabil walalupun suhu turun, sedikit nangka dan sayuran hijau (hints/sekilas), cocok untuk filter
FULLWASH, Berasa terang dengan tipis aroma dan rasa diawal, diujung ada rasa kacang dan ringan, perubahan drastis saat suhu turun, cocok untuk blend dan darkroast untuk kopi susu.

Sampai Jumpa di Next Ngopi Tandang
Sampai Jumpa di Next Ngopi Tandang

Lagi-lagi, waktupun tanpa terasa dilewati oleh seluruh komponen yang terlibat dalam NgopiTandang ini. Yaaaaa tanpa terasa waktupun udah menunjukkan lebih jam  16.20 wib. Dan dengan berat hati, setelah seluruh NgopiTandang pun mesti berpamitan untuk kembali ke Kota Jambi. Walaupun dengan alasan waktu, NgopiTandang terpaksa di pending untuk titik kunjungan berikut yang direncanakan. Sentra Industri Pertanian (SIP) Liberika (penggiat hulu) dan SoGleng (penggiat hilir) yang berada di Kecamatan Betara belum jadi dimampiri untuk NgopiTandang edisi kali ini. Tapi dengan tidak mengurangi semangat bersama tetap akan selalu dalam satau frekuensi dalam perkopian khususnya di Provinsi Jambi dalam #IramaKopiUntukIndonesia yang merupakan tagline NgopiTandang yang diinisiasi oleh ETALASE – Jambi Coffee Centre. Akan tetapi, sebelumnya dalam kesempatan yang berbeda juga telah melakukan hal yang sama dalam program yang berbeda

(intip IG @etalase_jbi ya.. https://www.instagram.com/p/CH74AUYDXJW/ ).

16.40 wib, atau setelah melakukan beberapa transaksi pembelian green beans liberika dari beberapa olahan pascapanen termasuk Wine Proses, NgopiTandang edisi Liberika  juga disupport oleh Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI) Provinsi Jambi ini bertolak kembali ke Kota Jambi dengan titik akhir Workshop ETALASE – Jambi Coffee Centre yang merupakan inisiator program tersebut.
Senyum kepuasan dari seluruh yang terlibat dalam Ngopi Tandang ini tentunya menambah semangat untuk bersama penggiat lainnya terus bersama dalam merajut dan melantunkan dalam satu frekuensi “Irama Kopi Untuk Indonesia”.

Jumpa lagi dalam NgopiTandang edisi selanjutnya ya….  
Baca juga cerita kita sebelumnya di https://etalasekopijambi.com/ngopi-tandang-edisi-liberika/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here