KOPI SEHAT #LawanCovid19 (Bagian 1 – Penghantar)

0
802

“BUAT TANPA TAPI – LAKUKAN TANPA NANTI” Sampai dengan hari ini  dunia seakan ‘dipaksa’ untuk melakukan hal-hal baru dan diluar kebiasaan. Salah satu ‘paksaan’ nya adalah untuk selalu melakukan pola hidup sehat dan ‘terpaksa’ untuk banyak dirumah atau lebih tepatnya selalu dirumah dalam melakukan segala aktivitas dengan tetap bersama dengan keluarga. Yaa… Dunia sedang menghadapi sesuatu hal yang nyaris membuat semua penghuninya terbangun dari hal-hal yang sebenarnya juga bukan sekedar mimpi. Semuanya berdampak dan semuanya merasakan perubahan-perubahan tersebut. Berkecamuk pemikiran-pemikiran akan situasi sekarang yang sepertinya bisa dilewati dengan senyuman sebagaimana situasi-situasi sangat sulit sekalipun yang pernah hadir sebelumnya dan dapat terlewati dengan berbagai macam proses serta dinamikanya.

Stay at Home hampir setiap jam bahkan menit dapat dilihat bahkan dan didengar dari berbagai penjuru dunia, tidak terkecuali di Provinsi Jambi, Sumatra, Indonesia. Sama dengan ‘musibah’ atau ‘anugerah’ lain, kehadirannya tanpa ‘tapi’ dan tidak mengenal ‘nanti’.

Stay at Home. Foto : unsplash.com

Nah… apakah yang terjadi saat ini musibah atau anugerah? Sepertinya jawaban untuk pertanyaan tersebut dikembalikan kemasing-masing kita. Karena pastilah sudut pandangnya berbeda-beda, seperti halnya sudut pandang kita dalam menilai apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun, bagaimanapun dan pun-pun lainnya. Karena semua jawaban tersebut tentunya atas dasar pemikiran ataupun atas dasar sebuah kepentingan hehehehe.

Hari ini semua dilakukan dengan apa adanya, tapi dengan tetap berusaha menghasilkan kwalitas yang maksimal. Kwalitas terbaik akan apa yang diinginkan oleh masing-masing yang melakukannya untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan dan bahkan negara.

Dan hari ini pun semua berjuang dalam menghadapi segala kemungkinan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Setidaknya berjuang untuk tetap selalu dirumah dalam keadaan sehat dan untuk sementara tidak melakukan interaksi secara langsung diluar rumah. Hmmm… sementara, tapi dengan jangka waktu yang belum dapat ditentukan. Dalam artian sepertinya kondisi apapun hari ini mau tidak mau harus tetap ‘dinikmati’, hingga kita bisa lebih maksimal untuk tetap berperilaku hidup sehat serta mengikuti anjuran-anjuran resmi dari pihak terkait. Lagi-lagi tanpa ‘tapi’ dan tanpa ‘nanti’. Apa yang dianggap sulit, ribet dan sebagainya juga mesti dijalani tanpa “tapi” dan tanpa “nanti”.

Yaaa… seperti hal nya secangkir kopi yang selalu hadir dari rumah saat pagi hari, siang dan atau malam hari oleh hampir seluruh element dan lapisan masyarakat. Dan ada fase dimana oleh sebagian orang yang beranggapan menikmati kopi itu kenapa harus sulit dan ribet khususnya hari ini saat aroma dan rasa yang ‘diburu’ oleh penikmatnya adalah gaya hidup dan tren. Karena pada fase tertentu penikmat kopi mulai menggali asal usul perpaduan dalam secangkir kopi. Dimana kebunnya? Siapa petaninya? Bagaimana proses olahannya? Apa profile roastingnya? Seberapa tingkat kehalusan gilingnya? Berapa suhu airnya? Metode apa yang digunakan saat penyeduhannya? Dan berbagai pertanyaan turunan yang dihasilkan dari pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut.

 

Ilustrasi Ngopi Di Rumah. Foto : unsplash.com

Selanjutnya berbagai jawaban juga diungkapkan saat ditanyakan apa yang dicari dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan memang tidak jarang yang  menjawab untuk mencari aroma dan rasa. Tapi apakah hanya itu?  Banyak literasi yang mengatakan kopi itu dapat menyehatkan atau setidaknya untuk pencegahan, tapi ada juga literasi yang mengatakan sebaliknya.

Hmmm… Ok, sepertinya saat ini waktu yang tepat Etalase memberikan sharing dan informasi bahwa selain memanjakan mata, hidung, mulut dan tenggorokan melalui fisik, aroma dan rasa, kopi juga dapat memanjakan tubuh sekaligus dapat menjadi sebuah teraphy yang akan memberikan kesehatan di dalam dan bahkan luar tubuh, jika dinikmati dengan lebih baik dan lebih bijak.

Nah loh… kopi yang bagaimana itu?

Informasi tersebut bukan hanya sekedar dari literasi atau sebuah artikel semata, tapi berdasarkan atas pengalaman nyata beberapa sahabat, termasuk dari apa yang dialami sendiri oleh Jhe Edhyanto. Dan hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi Jhe Edhanto untuk terus belajar lebih mendalam lagi tentang Kopi. Mulai dari Hulu sampai dengan Hilir, khususnya Kopi Jambi, sampai dengan pada akhirnya berdirilah Etalase dan mengambil peran di dalam perkopian Indonesia khususnya, di Provinsi Jambi.

(bersambung …..) 

 

 KOPI SEHAT #LawanCovid19 (Bagian 2 – Belum Penutup)

“BUAT TANPA TAPI – LAKUKAN TANPA NANTI”

……seorang sahabat menerapkan teraphy kopi setelah pada 2015 sampai 2018, beliau sakit diabet, liver, jantung dan paru-paru. Bolak balik rumah sakit dan beberapa kali operasi paru, pada saat itu saya mulai bosan minum obat karena bobot badan terus menurun hingga 35 kg.

Dan saya sendiri 2011 diklime ada 2 batu “bersarang” di Ginjal (batu ginjal) dan harus operasi, yang akhirnya tidak terjadi operasi setelah kurang dari 4 bulan teraphy (salahsatunya teraphy kopi) …

 ….semua itu di buat tanpa tapi dan di lakukan tanpa nanti….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here