KOPI SEHAT #LawanCovid19 (Bagian 2 – Teraphy Kopi)

0
861

 

Proses Seduhan Teraphy Kopi

“BUAT TANPA TAPI – LAKUKAN TANPA NANTI”

 …….‘‘paksaan’ nya adalah untuk selalu melakukan pola hidup sehat dan ‘terpaksa’ untuk banyak dirumah atau lebih tepatnya selalu dirumah dalam melakukan segala aktivitas dengan tetap bersama dengan keluarga. Yaa… Dunia sedang menghadapi sesuatu hal yang nyaris membuat semua penghuninya terbangun dari hal-hal yang sebenarnya juga bukan sekedar mimpi. Semuanya berdampak dan semuanya merasakan perubahan-perubahan …….

 ……kondisi apapun hari ini mau tidak mau harus tetap ‘dinikmati’, hingga kita bisa lebih maksimal untuk tetap berperilaku hidup sehat serta mengikuti anjuran-anjuran resmi dari pihak terkait. Lagi-lagi tanpa ‘tapi’ dan tanpa ‘nanti’. Apa yang dianggap sulit, ribet dan sebagainya juga mesti dijalani……

Point yang menjadi pesan dalam artikel bagian 1 diantaranya “tetaplah untuk sehat dan atau menjalankan pola hidup sehat tapi bukan berarti tidak boleh sakit” dan “buat tanpa tapi, lakukan tanpa nanti” karena musibah atau anugerah akan datang tanpa mengenal apapun, siapapun, dimanapun dan kapanpun sebagaimana juga hadirnya sakit saat sehat atau sebaliknya.

Seperti halnya dialami oleh Jhe Edhyanto (founder/owner Etalase) di akhir tahun 2011, sebelumnya pria yang selama ini beraktivitas dan berprofesi sebagai perencana program (konsultan social entrepreneur) merasakan tubuhnya baik-baik saja. Hingga akhirnya harus dirawat saat tidak dapat buang air dan di klaim ada beberapa batu “bersarang” di ginjalnya dan di saluran kemihnya. Singkatnya setelah kedua kalinya opname (rawat inap di RS Theresia, Kota Jambi) satu-satunya jalan untuk menghilangkan sakit yang dialami diharuskan melakukan operasi untuk mengeluarkannya (batu ginjal).

Ketakutannya dengan jarum suntik, membuat dirinya harus mengurus administrasi sendiri dan “lari” meninggalkan RS Thresia setelah sekitar 10 hari dirawat saat menunggu masa operasi dan melakukan pengobatan dari rumah.

Sedikit berbeda yang dialami oleh Jurnalis Senior di Bandar Lampung, Ismail Komar yang di klaim kompilasi diabetes, liver, jantung dan paru-paru ditahun 2015 dan harus bolak-balik rumah sakit dan beberapa kali harus menjalani operasi paru-paru  dan rawat inap sampai dengan 2018.

Ismail Komar. Foto : tribunlampung.co.id

Dari perbedaan pengalaman yang dialami oleh keduanya, ternyata ada persamaan dalam perjuangan untuk menuju kesembuhan. Persamaan tersebut juga yang akhirnya membuat  2 pria tersebut bersahabat dan saling sharing informasi khususnya terkait kopi dan dinamikanya. Yaaaaa…. Kopi yang mengawali pertemuan mereka disaat menghadiri Festival Kopi Lampung Barat di tahun 2019.  Sharing tentang kopi hingga akhirnya persamaan dari pengalaman terhadap kopi yang membuat mereka mendalami sekaligus terjun dalam dunia perkopian Indonesia.

Persamaan pengalaman sebagaimana dikutip dari apa yang disampaikan oleh Jhe Edhyanto selama ini bahwa ada seorang sahabat yang sakit diabetes, liver, jantung dan paru-paru. Bolak-balik rumah sakit dan beberapa kali operasi paru-paru, pada saat itu (2015 – 2018) beliau mulai bosan minum obat karena bobot badan terus menurun hingga 35 kg.  Dan saya sendiri 2011 di klaim ada 2 batu bersama serpihan-serpihan lainnya “bersarang” di Ginjal (batu ginjal) dan harus menjalani operasi, yang akhirnya tidak terjadi operasi setelah awal 2013 keluar dan dinyatakan bersih. Sebelumnya atas anjuran teman kerja yang berprofesi sebagai dokter bahwasannya saya harus mengurangi konsumsi makanan dan minuman kemasan (akhirnya nyaris dihilangkan), perbanyak minum air putih, dan jika pun sulit menghilangkan ngopi, lakukan lebih baik dan lebih bijak melalui sebuah teraphy. Salah satu pilihannya adalah dengan kopi, tentunya dengan metode-metode khusus dan konsisten. Hal yang sama (teraphy kopi) juga dilakukan oleh Ismail Komar.

Teraphy kopi yang dilakukan oleh Jhe Edhyanto dan Ismail Komar pada dasarnya adalah kopi tanpa gula atau tanpa campuran lain kecuali air dengan suhu tertentu. Untuk lengkapnya, berikut langkah atau proses yang dilakukan Jhe Edhyanto saat menjalankan teraphy kopi dengan minimal secangkir (150 ml) secara rutin setiap hari dan akhirnya batu ginjal ‘dipaksa’ keluar dari dalam tubuh (2013), yang Insha Allah sampai dengan hari ini terus dilakukan :

  • Kebun (Panen) : Pastikan kopi dipanen adalah buah merah, sekitar 10 kg cherry merah yang dipanen harus langsung direndam dalam baskom dihari yang sama. Hal ini biasanya disebut merambang. Pisahkan cherry (buah) yang mengapung dari yang tenggelam. Yang akan diproses selanjutnya adalah cherry yang tenggelam.
  • Pasca Panen : Masih dihari yang sama, pisahkan atau kupas kulit cherry dapat dilakukan dengan tumbuk lesung atau mesin, proses ini dinamakan pulping. Lalu fermentasikan salah satunya untuk menghilangkan lendir pada permukaan kulit tanduk. Terdapat 2 (dua) cara proses fermentasi, pertama dengan merendam biji dalam air bersih. Kedua, menumpuk biji basah dalam bak semen atau bak kayu, kemudian atasnya ditutup dengan karung goni yang harus selalu dibasahi. Sampai keesokan hari.
  • Penjemuran : Setelah proses fermentasi 12 – 18 jam, usahakan dilakukan pencucian di air mengalir yang selanjutnya dijemur dengan menggunakan permukaan yang berpori untuk sirkulasi udara dari bawah dan pastikan tidak langsung menyentuh tanah. Lakukan perhatian dan perlakun khususnya bolak balik biji berkulit tanduk tersebut setiap 2 jam selama 3 – 5 hari pertama agar merata dan tidak dihinggapi oleh hewan dan lainnya. Jangan dilakukan penumpukan sebelum mencapai kadar air 12%.
  • Sortasi : Jika cuaca baik, hari ke 15 atau telah tercapai kadar 12% biji siap dipisahkan dari kulit tanduknya. Caranya dapat menggunakan tumbuk lesung ataupun mesin. Selanjutnya dapat dilakukan sortasi secara manual untuk memisahkan biji kopi yang pecah atau cacat. Jika dilakukan dengan maksimal greenbean yang akan dihasilkan dari 10 kg Cherry yang diolah dengan proses yang disebut (Wash) ini sekitar 1,6 – 1,8 kg untuk Arabika dan Robusta. Untuk liberika hanya akan menghasilkan 0,9 – 1,1 kg greenbean.

(sebelumnya ada di : Kopi Jambi Berkualitas Dunia)

  • Roasting : Agar nutrisi yang terkandung dalam biji kopi tetap bertahan maksimal profile (level) roasting yang digunakan adalah “light to medium” atau maksimalnya “medium”, artinya tingkat kematangan shangrai “sedang” dengan warna coklat kekuningan atau maksimal coklat gelap. Memasuki proses ini, menghasilkan sekitar 1,3 – 1,5 kg roastbean (biji kopi shangrai/roasting) untuk Arabika maupun Robusta dan 0,7 – 0,9 kg untuk liberika.
  • Penggilingan Roastbean (Grinder) : Skala gilingan yang diperlukan adalah medium atau gilingan sedang untuk metode seduhan filter/saring. Roastbean sebaiknya digiling sesaat sebelum diseduh dan sesuai kebutuhan. Kenapa sih harus menggiling biji kopi sesaat sebelum menyeduh? (sebelum ada pertanyaan tersebut, sepertinya skalian coba Etalase jawab ya… sangat disarankan untuk rasa yang lebih optimal sekaligus dapat menjaga kesegaran serta karakter aroma, rasa dan nutrisi yang terkandung dalam kopi tersebut).
  • Seduhan : Metode seduh yang dilakukan adalah saring/filter dapat juga menggunakan V60 + kertas filter yang sesuai dengan beberapa langkah sebagai berikut :
  1. Siapkan gelas, timbangan, V60 dripper dam filter di atasnya, 15 gram kopi yang baru saja digrinder dengan ukuran medium (sedang/kasar), 195 ml air dengan suhu 85°C – 90°C . Suhu tersebut akan tetap mempertahan kandungan yang ada didalam kopi.
  2. Basahi filter dengan air panas, dan buang air bekasnya.
  3. Masukkan bubuk kopi pada dripper.
  4. Seduh dengan gerakan memutar secara konstan dan perlahan.
  5. Tuangan pertama untuk blooming, proses mengeluarkan karbondioksida. Tuang hingga timbangan menunjukkan 30 ml, tunggu 45 detik.
  6. Tuang hingga 80 ml, tunggu 45 detik.
  7. Tuangan ketiga untuk mendapat Tuang hingga 150 ml, tunggu 30 detik.
  8. Tuangan terakhir, hingga 195 ml.
  9. Sebelum tetesan berhenti, angkat agar seduhan yang terakhir tidak ikut tercampur.

 

  • Teraphy Kopi : Kopi yang telah diseduh dapat dinikmati dengan cara masing-masing, disarankan ¾ nya dapat dihabiskan sebelum suhu turun dibawah 60°C. Minimal 1 kali secara rutin setiap hari setelah sarapan, makan siang dan atau makan malam. Bahkan seorang sahabat Endang Purwaningsih menjelaskan waktu yang baik mengkonsumsi kopi mulai pukul 08.00-09.00. Lalu 12.00-13.00. Kemudian, 16.00-17.00 setelah makan. “Karena pada waktu waktu itu, ada satu jenis enzim yang bisa meningkat bisa membantu daya tahan tubuh jika bertemu dengan zat dalam kopi,” ungkap dokter yang praktek di Rumah Sakit Demang Sepulang Raya, Lampung Tengah.
  • Relaksasi Kopi : Disarankan ampas bubuk kopi hasil dari seduhan diatas, dapat dijadikan bahan untuk masker dan bahan pengganti sabun karena masih terkandung didalamnya antioksidan, menghaluskan dan untuk mengangkat sel kulit mati.

Etalase juga ingin menegaskan bahwa selain memanjakan mata, hidung, mulut dan tenggorokan melalui fisik, aroma dan rasa, kopi juga akan dapat memanjakan tubuh sekaligus dapat menjadi sebuah teraphy yang akan memberikan kesehatan di dalam dan bahkan luar tubuh jika dinikmati dengan lebih baik dan lebih bijak. Sebagaimana program pengembangan Etalase yang sedang disusun saat ini.

Buat tanpa ‘tapi’, lakukan tanpa ‘nanti’

Baca juga informasi tentang Ismail Komar di http://lampung.rilis.id/allah-swt-selamatkan-saya-lewat-kopi dan https://www.saibumi.com/artikel-99309-suguhan-kopi-di-warkop-waw-bisa-sembuhkan-penyakit-kok-bisa.html

 

(Bukan Penutup)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here