KRISIS (KAH) ? MENCIPTAKAN, MENCARI ATAU MEMPERTAHANKAN [PASAR KOPI] ?

0
731

Pada prinsipnya pasar kopi mempunyai permintaan yang berbeda-beda dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Akan tetapi semua pasar mempunyai persamaan dalam setiap permintaan berapapun kuantitasnya dan bagaimanapun kualitasnya akan tergantung seberapa besar  komitmen terpegang, seberapa kuat konsisten dalam menjalankannya dan seberapa panjang keberlanjutannya (kontinyu).

Figure 1 :Apapun Pasar Kopi Hari ini, yang diperlukan pasar adalah Keseimbangan (Komitmen + Konsisten + Kontinyu) dalam memperoleh dan menghasilkan Kualitas yang sesuai dengan keinginan Pasar.
Figure 1 :Apapun Pasar Kopi Hari ini, yang diperlukan pasar adalah Keseimbangan (Komitmen + Konsisten + Kontinyu) dalam memperoleh dan menghasilkan Kualitas yang sesuai dengan keinginan Pasar.

Secara umum kopi dapat ditemui disetiap sudut dikehidupan masyarakat, dimanapun dan siapapun kelompok ataupun pribadinya, dikota ataupun desa, laki-laki atau perempuan, tua, muda dan dewasa, bahkan pejabat dan buruh nyaris semuanya menikmati kopi. Dari kopi yang menjadi unsur utama dalam aktivitas sampai dengan hanya sekedar gaya hidup dalam pergaulan. Dalam hal tersebut Etalase mengajak kita semua untuk mengklasifikasikannya dalam beberapa pilihan pasar kopi, diantaranya :

  • Kopi Sachet : Kopi yang diproduksi masal dalam kemasan siap seduh dengan ukuran besar dan kecil (sekali seduh).
  • Kopi Waralaba : Kopi yang dijual dikedai kopi, gerai waralaba besar atau kafe/kedai. Bukan hanya menawarkan kopi akan tetapi bervariasi menu dan fasilitas.
  • Kopi Kekinian : Produk ini ‘mencuri’ perhatian konsumennya dengan minuman yang disajikan tidak begitu pekat dan atau manis berkat tambahan bahan baku lainnya.
  • Kopi Speciality/Fine : Kopi yang “wajib” diketahui asal usulnya dan memiliki proses yang panjang dari penanaman, panen, pemilihan biji hingga roasting (shangrai) dengan seduhan single origin.
  • Turunan Kopi : Beberapa unsur yang dimaksud dengan produk-produk turunan kopi seperti parfum, masker, gelang, makanan ringan, dan wisata kopi.

 Dari masing-masing klasifikasi tersebut mempunyai ruang dan pasar yang berbeda, secara presentasinyapun berbeda khususnya untuk para penikmatnya. Yaaa termasuk bagaimana olahannya bahkan dimana serta kapan menikmatinya akan memberikan warna berbeda bagi para penikmatnya.

Hanya salahsatu  yang dapat menjadi persamaannya adalah  sama-sama mempunyai keterkaitan dari hulu sampai dengan hilir (petani/kebun – prosessor/pasca panen – roasteri/shangrai – penyeduh/kedai –  penikmat/konsumen).

Artinya apapun kondisi yang terjadi disetiap dikehidupan sosial masyarakat, kopi akan tetap terus berada dalam lingkaran sekaligus menyesuaikan situasi dan kondisi terkini.

Figure 2 Aktivitas menyeduh Kopi di Etalase
Figure 2 Aktivitas menyeduh Kopi di Etalase

Dimasa pendemi Covid 19 yang terjadi saat ini, Etalase merasa dampak penurunan omset adalah kedai-kedai atau café-café yang mempersiapkan Kopi siap saji. Hal tersebut terjadi bukan karena daya konsumsi berkurang, akan tetapi daya beli untuk siap saji sangatlah terbatas dikarenakan hampir semua lini dimasyarakat melakukan aktivitas di rumah (stay at home). Sampai hari ini, disetiap rumah masih ditemani kopi dalam kesehariannya. Mayoritas melakukan pembelian bubuk kopi ataupun roastbean yang siap diseduh  dirumah masing-masing (Ngopi@Home).

Artinya, semestinya daya beli terhadap bahan baku kopi tidaklah signifikan berdampak, hanya yang sangat mungkin ‘penekanan’ harga yang sangat mungkin terjadi dengan salashsatu alasan dampak krisis yang terjadi. Hal ini juga yang akhirnya membuat petani “terpaksa” menjual karena keadaan yang mau tidak mau dan suka tidak suka harus terus melakukan penjualan agar tetap dapat terus berproduksi. Tentunya hal ini jangan sampai terjadi seterusnya,dibutuhkan strategi yang konkrit dan peran yang komperhensif dari semua pihak.

Baca juga : https://etalasekopijambi.com/kopi-sehat-lawancovid19-bagian-1-penghantar/

Figure 3 TUBRUK : Salahsatu metode seduhan yang mayoritas ditemui kapanpun dan dimanapun
Figure 3 TUBRUK : Salahsatu metode seduhan yang mayoritas ditemui kapanpun dan dimanapun

Figure 3 TUBRUK : Salahsatu metode seduhan yang mayoritas ditemui kapanpun dan dimanapun

Pada kesempatan ini Etalase memberikan pandangan bahwa mesti  terjalin dulu kesepahaman antar stakeholder khususnya pelaku kebijakan untuk komitmen bersama menerapkan beberapa hal yang berdampak secara luas. Akan sulit jika berjalan sendiri-sendiri. Kebijakan hulu sampai dengan hilir seyogyanya terintigrasi juga dengan komoditi dan produk lainnya.

Salahsatunya mempermudah SRG (SistemResiGudang) tentunya dengan komitmen yang berdampak bersama bukan hanya sekelompok apalagi personal.  Artinya di SRG nantinya bukan hanya untuk Kopi saja tapi juga dapat untuk hasil komodity lainnya… atau sebaliknya SRG yang telah jalan untuk komoditi lain dapat dimanfaatkan juga oleh kopi.

SRG harapannya dapat menyasar kerjsama dengan para pengusaha atau pemilik gudang secara pribadi. dimana dapat dilakukan kerjasama atau kemitraan secara langsung, singkatnya percepatan SRG bukan berarti harus membuat Gudang Baru yang notebenenya relatif panjang. hanya administrasi dan sistem sama dengan perundangan yang berlaku.

Selain itu, tersadari setelah ini juga bakal melewati masa pemulihan dengan waktu yang tidak pendek. Karena seluruh lini tentunya akan melakukan pemulihan bukan hanya dari komoditinya, akan tetapi dari ekonomi dan sumber daya manusia khususnya dari sisi psikologis yang tanpa disadari juga berdampak terhadap sosial masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here