EtalaseKopiJambi, Sepanjang bulan Juli 2019, Tim ETALASE “Gift&Coffee” malakukan pembenahan dan penguatan system dari apa yang menjadi komitmen hadirnya ETALASE “Gift & Coffee” ditengah masyarakat Jambi serta menginformasikan aktivitas secara Nasional bahkan Internasional apa yang telah, sedang dan akan dilakukan dari beberapa hal yang ada di perKOPIan maupun Komunitas.

SOSIOKOPISME
SOSIOKOPISME

Nah dimulai dari hari ini (1 Agustus 2019) sampai dengan seminggu kedepan www.etalasekopijambi.com akan mencoba merangkum dari seluruh apa yang ada selama bulan Juli 2019. Dumulai dari sebuah sharing dan diskusi bersama dengan salahsatu anak muda yang mempunyai hobby  menulis terkait apa yang ada di lingkungannya dan juga menjadi bagian dari hal-hal yang dijalankan dan dinikmati nya.

Adalah Muhammad Fitra, yang memberikan pendapat dan apa yang dipikirkannya terhadap trand Kopi dalam bentuk tulisan. Dan tulisan tersebut di”hibah”kannya untuk ditayangkan sekaligus terdokumentasikan di www.etalasekopijambi.com untuk dapat menjadi referensi dan bagian dalam obrolan ringan para pihak saat ditemani secangkir kopi dengan berbagai olahan yang tersajikan di meja para penikmatnya.

SOSIO-KOPISME,
By. Muhamad Fitra

Istilah Sosio-kopisme adalah penggabungan dari kata sosial, kopi, dan paham atau ajaran. Dengan kata lain sosio-kopisme dimaksud sebagai ajaran tentang memaknai kopi sebagai entitas sosial ditengah gejala individualis yg telah mengakar pada masyarakat karena era teknologi yang semakin membaik. Penganut sosio-kopisme ini diharapkan sebagai jalan keselamatan bagi seluruh manusia agar tetap bertindak nyata dari dunia maya yang begitu mendominasi aktifitas manusia belakangan ini.

Dalam keseharian, banyak aktifitas seseorang yang dimulai dengan kopi. Kafein dianggap mampu mengantarkan manusia kepada proses berfikir yang lebih tenang dan matang. Tidak heran saat ini kopi menjadi primadona di Indonesia. Bahkan industri ini juga memiliki asosiasi dunia seperti International Coffee Organization (ICO). Tujuan utamanya yaitu untuk memperkuat sektor komoditi kopi secara global. Ini menggambarkan bahwa industri kopi tidak pernah mati dan selalu memiliki penikmatnya. Dan juga menjadi pilihan terbaik pada saat rehat, menggelar pertemuan, dan berdiskusi.

SOSIOKOPISME
SOSIOKOPISME

Saat ini warung kopi menjadi tempat favorit millenial untuk berkumpul. Puncak dari pertemuan di coffee shop adalah Diskusi, yang merupakan proses literasi sempurna. Karena dengan berdiskusi yang dipertarungkan adalah argumen-argumen yang berangkat dari hasil bahan baca dan tulis. Semakin banyak membaca dan menulis maka argumen-argumen yang dikeluarkan akan semakin terasa segar dan mampu menghasilkan hasil diskusi yang mapan. Maka menjadi wajar, jika para penikmatnya menjadi yang terbaik pada bidangnnya.

Walaupun dalam hal ltersebut ritual meminum kopi hanya sebagai gimmick. Orang lebih tertarik terhadap pertemuannya, ketimbang meminum kopi. Namun demikian, itu merupakan bentuk nyata dari interaksi sosial yang terjadi. Sebab kemewahan dari seteguk kopi adalah hubungan sosial dan ekonomi yang terbangun.

SOSIOKOPISME
SOSIOKOPISME

Kopi juga sering menjadi gaya hidup. Mereka yang penikmat kopi dengan kualitas tinggi, menganggap kecil orang-orang dengan kopi kualitas biasa. Begitu pula orang-orang dengan kebiasaan ngopi di coffee shop, menganggap kecil mereka yang suka dengan kopi sachet. Itulah cluster yang diciptakan dalam dunia kopi. Terdapat keangkuhan yang dipertontonkan dalam menikmati segelas kopi.

Kopi memiliki tempat spesial bagi orang yang senang bersosial. Kopi seperti teman dalam memecahkan masalah bersama atau saat sedang berdialetika dengan pemikiran. Bahkan ada yang mengatakan ketika mahasiswa berdiskusi di warung kopi, maka keesokkan harinya akan terjadi demonstrasi. Dengan demikian maka peran kopi dalam tatanan hidup sosial mampu menggerakkan suatu gagasan perubahan atau membawa manusia untuk berpikir tentang kebaikan untuk manusia lainnya.

Selain interaksi sosial dan gagasan-gagasan yang terbangun melalui segelas kopi. Terdapat pula banyak aksi-aksi sosial untuk kemanuasiaan yang terjadi. Seperti sebuah cafe di melbourne, dengan konsep bisnis yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah sosial (social enterprise). Pelanggan dapat memilih sendiri kemana keuntungan dari kopi yang dinikmatinya, dapat disalurkan.

Sosio-kopisme ini berdampak positif bagi kehidupan sosial, kesehatan, perekonomian dan persatuan. Oleh karenanya, terjangkit paham ini akan sangat memberikan nutrisi bagi keseharian. Karena paham kopi, merupakan proses pemikiran alami yang berangkat dari secangkir kopi. Seruputan yang membuat orang berpikir bahwa dengan kopi semua orang bisa berbagi, karena kopi tidak untuk dinikmati sendiri. (Jambi, Juli 2019)